Postingan

Tiket Masuk Museum Naik, Bagaimana Dengan Komunitas?

Gambar
Powered by Gemini AI Sambil menikmati secangkir kopi di pagi hari, saya kembali membuka dan membaca salah satu buku favorit saya. Ini adalah sebuah buku yang menurut saya cukup lengkap mengulas serba-serbi permuseuman di Indonesia. Ketika merepetisi membaca buku tersebut, saya tiba di bab yang membahas tentang organisasi museum. Tepatnya, di sub bab yang menyinggung mengenai pendanaan. Dan belum lama ini, saya juga mendapat informasi naiknya HTM (Harga Tiket Masuk) untuk Museum Nasional Indonesia yang berlaku mulai 1 Januari 2026 nanti.

Insan Permuseuman Ingin "Mengeluh" Tentang Program MBG (Makan Bergizi Gratis)

Gambar
Salah satu ruang tata pamer koleksi MUNASAIN Di era Museologi Baru, keberadaan museum tidak lagi sekadar tempat menyimpan warisan budaya benda dan tak benda. Museum telah menjadi sebuah rumah peradaban, media edukasi dan informasi hingga ruang kegiatan publik Bahkan tidak mustahil lagi jika museum menjadi salah satu acuan bagi pengembangan dan penelitian dalam ruang lingkup yang lebih beragam. Selama tidak bertentangan dengan visi dan misi museum, siapa saja berhak memanfaatkan semua yang tersedia di dalamnya. Termasuk menjadikannya sebagai pertimbangan hingga bagian dari program pemerintah. Di antaranya adalah MBG (Makan Bergizi Gratis).

Silaturahmi Dengan Ki Rachmat Iskandar: Ngobrol Santai di Perpustakaan dan Galeri Kota Bogor

Gambar
  Dari kiri ke kanan:  Ki Rachmat Iskandar, saya dan Akhmad "Qordova Sartoni"  di Perpustakaan dan Galeri Kota Bogor Ini adalah salah satu dari sekian banyak kesempatan yang belum tentu selalu bisa didapatkan oleh saya dan teman saya, Akhmad “Qordova Sartoni” ketika berkunjung ke Kota Bogor. Merupakan momen yang sangat luar biasa, khususnya bagi saya, karena di tahun ini bisa kembali bertemu dengan seorang budayawan, yang dalam pandangan saya juga penggiat sejarah sekaligus pengamat cagar budaya. Saya mengenal sosoknya dengan nama “Ki Rachmat Iskandar”, dan terbiasa menyapa dengan “Ki Rachmat”. Tepatnya di hari Kamis (29/08/2024) yang cukup cerah, saya dan Akhmad bertemu dengan beliau di tempat yang cukup menjanjikan dan kondusif; Perpustakaan dan Galeri Kota Bogor.

Suksesnya Peluncuran Buku Visualisasi "Babad Pajajaran" di Perpustakaan Kota Bogor

Gambar
Poster acara peluncuran buku visualisasi "Babad Pajajaran" Di hari Minggu yang cerah kemarin (23 Juni 2024), saya dan rekan saya yakni Akhmad Qurtubi kembali berkunjung ke Perpustakaan Kota Bogor untuk yang ke sekian kalinya. Jadi, dalam kesempatan kali ini, kami menghadiri agenda peluncuran buku visualisasi yang menurut saya dan tentunya banyak orang adalah sangat menarik, penuh warna dan berbeda dari yang lainnya. Mengapa berbeda? Sebab, tema utama yang diusung di dalamnya adalah salah satu bagian dari Kerajaan Sunda di fase Pakuan Pajajaran yang legendaris. Acara peluncuran buku ini diberi nama “Babad Pajajaran; Rempah, Konflik dan Prasasti” yang diterbitkan secara mandiri dengan difasilitasi oleh Tangtu Institute di auditorium Perpustakaan Kota Bogor.

Menghadiri Audiensi Usulan Proker IKADUMUS Jakarta di Awal Juni

Gambar
Menyimak penyampaian ulasan program kerja IKADUMUS Jakarta periode 2023 - 2024 Di awal bulan Juni ini (01/06/2024), saya berkesempatan untuk ikut hadir bersama rekan dan senior di Asosiasi Museum Indonesia Daerah Jakarta “Paramita Jaya” dalam suatu agenda yang dilaksanakan di Museum Bahari, Jakarta Utara. Agenda di sini adalah penerimaan audiensi usulan program kerja dari perwakilan Duta Museum Jakarta 2023 yang menjadi penggerak dari Ikatan Duta Museum Jakarta periode 2023 -2024. Sebagai penerus dari generasi angkatan saya (Duta Museum DKI Jakarta 2019; di sini masih menyandang nama “DKI”), para duta museum terpilih ini memiliki beragam usulan program kerja yang akan mereka laksanakan ke depan.

"Penobatan Prabu Siliwangi" Dalam Torehan Seni Lukis di Galeri Bumi Parawira

Gambar
Post di Instagram mengenai kegiatan bedah karya yang dimaksud Sebagai wujud kolaborasi antara seniman, pelaku kreatif sekaligus pegiat sejarah di Kota Bogor dalam upaya pendokumentasian peristiwa-peristiwa historis di kota ini lewat koleksi kesenian yang inspiratif, Galeri Bumi Parawira terus berupaya melakukan sosialisasi baik kepada warga asli Kota Bogor maupun dari luar. Hal ini tentunya untuk mewujudkan Kota Bogor yang tidak lupa akan akar budaya dan sejarahnya dengan setiap pencapaian hingga hari ini.

Batalyon-Batalyon Bentukan Belanda, Buku Koleksi Baru di Awal 2024

Gambar
  Tampilan depan buku "Batalyon-Batalyon Bentukan Belanda" Tanda tangan asli penulis jika membeli langsung dari penulisnya Di awal tahun 2024 ini, tepatnya Januari lalu saya membeli sebuah buku yang menurut saya sangat menarik. Berawal dari tidak sengaja membuka kotak masuk di Facebook, menyortir pesan yang belum sempat dibaca. Sampai akhirnya saya tertuju pada sebuah pesan di bulan Juni 2023, berisi penawaran dari salah seorang teman Facebook yang sudah cukup lama berteman walau melalui media sosial saja.

Pengalaman Kecil Bertugas di LCCSP Tingkat SMP DKI Jakarta 2023

Gambar
Registrasi pada hari pertama perlombaan Pembukaan Lomba Cerdas Cermat Sejarah dan Permuseuman tingkat SMP se-DKI Jakarta 2023 Setelah beberapa bulan blog ini menganggur, akhirnya saya bisa kembali menulis setelah berjuang mengumpulkan semangat. Beberapa hari lalu tepatnya selama tanggal 31 Juli hingga 2 Agustus lalu, saya mendapat tugas dalam kegiatan Lomba Cerdas Cermat Sejarah dan Permuseuman tingkat SMP se-DKI Jakarta 2023. Kegiatan ini merupakan salah satu sinergitas antara Asosiasi Museum Indonesia DKI Jakarta "Paramita Jaya" dan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta. Perlombaan ini diselenggarakan di kawasan Perkampungan Budaya Betawi Situ Babakan, Jakarta Selatan. Jadi, ada tiga tempat berbeda yang digunakan dalam babak penyisihan dan semifinal di hari berikutnya. Ruang A dan B yang berlokasi di lantai 2 bangunan Rumah Makan Betawi, dan ruang C yang ada di lantai 3 Museum Betawi. Selama tiga hari tersebut, saya dipilih untuk menjadi scorer selama babak penyisihan dan semifinal...

Mengingat (Kembali) Maret Sebagai Bulannya Pak Harto

Gambar
Para narasumber seminar nasional "Maret Bulan Pak Harto" di Museum Purna Bhakti Pertiwi, Kamis (16/03/2023) MC dari Duta Museum DKI Jakarta memandu pembukaan sebelum memasuki inti seminar Oleh: Fajar Muhammad Rivai Maret merupakan salah satu bulan yang istimewa dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Saya sendiri juga sepakat dengan pernyataan tersebut. Karena di bulan ini, seorang tokoh besar dilahirkan dengan membawa prestasi yang gemilang. Lahir di desa Kemusuk, Yogyakarta pada tanggal 8 Juni 1921, Jenderal Besar TNI (Purn.) H. Muhammad Soeharto (atau yang akrab dikenal sebagai Pak Harto) yang ketika itu masih berpangkat letnan kolonel menjadi terkenal berkat kepemimpinan lapangan beliau dalam Serangan Umum 1 Maret 1949. Di bulan yang sama pada tahun 1966, Surat Perintah Sebelas Maret dikeluarkan. Beliau yang ketika itu sudah berpangkat letnan jenderal memulai pemberantasan Partai Komunis Indonesia dan sisa-sisanya sebagai efek kegagalan aksi brutal yang dinamakan sebag...

Ke Museum di Era Normal Baru? Yuk, Perhatikan Ini Dulu!

Gambar
Area dalam Museum Bahari, Jakarta Utara   Pandemi Covid-19 membuat setiap tempat memberlakukan protokol kesehatan guna memutus rantai penyebarannya. Kantor hingga tempat makan pun tidak ketinggalan menyediakan peralatan cuci tangan yang nantinya akan digunakan orang sebelum masuk. Berlaku pula untuk mereka yang mengunjungi museum. Sebelum memasuki masa PSBB Transisi, seluruh museum dan galeri yang ada di Jakarta ditutup sementara. Imbasnya, setiap kegiatan di museum terpaksa dihentikan sementara atau dialihkan secara daring. Begitu juga dengan kunjungan yang diganti dengan virtual tour .

Museum Dalam Harapan, Keinginan dan Gagasan Saya

Gambar
  Area terbuka di bagian tengah Museum Bank Mandiri (Kota Tua Jakarta) Oleh: Fajar Muhammad Rivai (Finalis Duta Museum DKI Jakarta 2019)   Menurut saya, museum adalah lembaga sekaligus tempat yang memiliki fungsi tidak hanya untuk menyelamatkan dan mengoleksi segala bentuk rekam jejak, tinggalan seni dan budaya serta teknologi yang dicapai oleh peradaban manusia dari masa ke masa saja. Tetapi juga menyimpan, merawat dan memublikasikannya agar tidak hilang apalagi terlupakan di tengah perkembangan zaman yang semakin modern.  

Harapan Saya di Masa "New Normal"

Gambar
Selagi hari ini saya berada di lantai 19 Perpustakaan Nasional RI yang berada di selatan Monumen Nasional dan bersyukur mendapat akses Wi-Fi yang sangat bagus, Maka tulisan sederhana ini ada. Pandemi Covid-19 diikuti pemberlakuan pembatasan fisik dan sosial yang cukup panjang sebenarnya membuat saya sangat jenuh. Siapa yang tidak merasakan itu? Saya pikir semua orang pun sepakat dengan saya. Berdiam diri di rumah dengan pemasukan yang sangat minim. Tetapi demi kesehatan yang harus dijaga dan bisa survive , mau tidak mau harus tetap mengikutinya. Belum lagi "drama" bantuan sosial yang dikurangi atau salah sasaran yang mulai ramai di pemberitaan. Bahkan di media sosial saya masih bisa menemukan berita serupa.

Kenalkan, Ini Bang Rudiyant....

Gambar
  Saya bersama Bang Rudiyant di Museum Sejarah Jakarta, 2019 Setiap orang punya sosok inspirasi yang membuatnya maju dan bersemangat. Itu juga yang saya rasakan. Ada banyak orang yang menjadi inspirasi dan mereka sudah memulai kesuksesan dalam bidang masing-masing sebelum saya merintisnya di masa sekarang. Entah itu mereka sebagai guru, dosen dan lain sebagainya. Saya mendapatkan banyak pelajaran melalui peran langsung dan tidak langsung yang mereka lakukan. Salah satunya adalah sosok yang saya ceritakan ini. Saya dan rekan-rekan memanggil beliau dengan sapaan khas, ‘Bang Rudiyant’. Beliau adalah seorang novelis, wirausaha dan petualang yang hebat di mata saya. Bang Rudiyant juga pernah bermain dalam beberapa film di antaranya “Air Terjun Bukit Perawan” yang mana film tersebut diangkat dari salah satu novel karya beliau sendiri.

Novel "Unforgiven": Ketika Rumah Menyimpan Cerita Kelam Masa Lalu

Gambar
Tampilan depan novel "Unforgiven" Rumah adalah tempat yang nyaman. Tempat kita berteduh dari hujan dan panas. Di rumah pula kita dapat beristirahat dan melepas penat dari rutinitas di dunia luar. Banyak pula orang yang menghabiskan waktu di rumah melakukan berbagai hal yang menyenangkan dan mudah. Namun, pernahkah kamu mendapatkan cerita tentang riwayat rumahmu jika rumah itu sudah berdiri sudah lama sebelum kamu lahir dan tempati? Bagaimana jika di sana menyimpan cerita kelam yang pernah terjadi di masa lalu?

Nasi Untuk Serdadu di Hindia Timur

Gambar
Para serdadu KNIL di geladak sebuah kapal, 1910 (Tropenmuseum) Umumnya, ketika mendengar kisah tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia banyak dari kita membayangkan pasukan kolonial makan enak dengan roti, keju, susu dan makanan Eropa lainnya. Namun, ternyata semua itu tidak selalu menjadi santapan sehari-hari. Sama halnya dengan penduduk sipil Eropa yang menikmati aneka sajian lengkap Rijstaffel, mereka yang menjadi tentara juga merasakan makanan yang kurang lebih sama. Nasi juga menjadi menu yang dinikmati setiap hari.

Pernah Disinggahi James Cook, Ini Catatannya Tentang Perbaikan Kapal di Pulau Onrust

Gambar
  Lukisan sosok James Cook dalam balutan seragam perwira Royal Navy yang dilukis oleh Sir Nathaniel Dance-Holland (Koleksi Museum Maritim Nasional, Inggris)   James Cook dikenal sebagai seorang penjelajah, kartografer, navigator dan kapten di Royal Navy (AL Kerajaan Inggris). Petualangannya di Samudera Pasifik menjadikannya sebagai salah satu penjelajah terkemuka Inggris selain Francis Drake. Tidak banyak yang tahu jika James Cook pernah datang ke Batavia dan Onrust. Kerusakan yang dialami HMS Endeavour (kapal yang dipimpin oleh Cook) membuatnya harus singgah di dua tempat tersebut sebelum dapat kembali meneruskan perjalanan. Onrust pada masa itu dikenal sebagai salah satu tempat perbaikan kapal terbaik di dunia dan sering didatangi banyak pelaut dari berbagai belahan dunia, setidaknya menurut pengakuan Cook sendiri dalam catatannya. Tentang tanggal kedatangannya ada dua perbedaan. Menurut catatan Cook, dia tiba di Batavia tanggal 10 Oktober 1770. Namun pe...

Duta Museum Jakarta Belajar Membatik

Gambar
Museum sudah tidak lagi dipandang sebagai tempat penyimpanan benda-benda peninggalan masa lalu belaka, di mana orang masuk dan keluar hanya melihat itu saja. Namun berbagai kegiatan utamanya yang bertema seni dan budaya juga dapat dilakukan. Salah satunya dengan membatik.

Ayo, Kita Kunjungi MUNASAIN Kota Bogor!

Gambar
Kali ini masih tentang museum. Sebagai penjelajah antarkota (meski jarang pergi ke kota lain yang jaraknya lebih jauh) rasanya seperti ada yang kurang kalau belum datang ke museum. Di Jakarta pun waktu saya lebih banyak untuk ke sana sekadar melihat dan mempelajari setiap koleksi atau undangan kegiatan yang diadakan dari Kemdikbud dan lainnya. Bagi saya adalah kesempatan berharga bisa mengunjungi museum maupun situs cagar budaya setempat yang ada. Kebiasaan ini terbawa ketika saya datang ke kota lain. Termasuk di antaranya Bogor.

Kembali Ke Alam Bersama MUNASAIN Kota Bogor

Gambar
Manusia selalu memanfaatkan apa yang disediakan oleh alam. Seiring dengan perkembangan zaman ia pun menjadi bagian dari keanekaragaman kehidupan masyarakat di berbagai belahan dunia dengan ciri khas masing-masing. Dalam kegiatan Night At The Museum kali ini, MUNASAIN (Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia) Kota Bogor mengajak para peserta untuk kembali pada alam. Bukan hanya sekadar memberikan gambaran tindakan untuk kebaikan namun juga memberikan penyegaran kembali akan pemahaman mengenai alam Indonesia. Derasnya hujan yang mengguyur kota Bogor pada malam itu tidak menyurutkan niat peserta untuk datang ke kegiatan tersebut. Sebagai ‘teman’ acara, camilan dan minuman tradisional khas Sunda seperti bajigur, comro, dodongkal, kue ali (kue cincin) dan jagung rebus disajikan untuk para peserta yang kemudian diakhiri dengan menyantap nasi kuning bersama-sama dalam penutupannya. Dan karena berlokasi di salah satu kota terkenal di Jawa Barat, memahami alam sesuai kultur dan kosm...

Menghadiri Lokakarya Merancang Kegiatan Museum Bersama Kevin Sumption

Gambar
Para pengelola museum dan perwakilan komunitas mitra yang tergabung dalam AMIDA Paramita Jaya dan AMIKA TMII telah mengikuti Lokakarya Merancang Kegiatan Museum   (Kamis, 14 November 2019) dengan pembicara Kevin Sumption (Direktur The Australian Nastional Maritime Museum /Museum Maritim Nasional Australia). Kegiatan yang diadakan di auditorium Museum Nasional ini adalah kerjasama antara AMIDA Paramita Jaya dan Kedutaan Besar Australia guna meningkatkan wawasan tentang pengelolaan museum dan serba-serbi kegiatan di dalamnya.